Bukan sekedar TOFI biasa…
Tergelitik juga untuk menulis judul di atas, yang mungkin jarang terdengar oleh telinga kita. Setelah membaca beberapa artikel dan berdiskusi langsung, timbul pertanyaan "Ada apasih dengan TOFI ini?". Nagh, klo ada yang belum pernah tau apa itu TOFI pasti penasaran deh. What da? [mode pasang kuping ON] Memang sebagian besar orang tidak pernah tau TOFI itu apa. Sebagai orang amatiran fisika-red.mahasiswa fisika-, saya akrab sekali dengan singkatan ini yang bisa disebut sebagai Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Lalu apa korelasinya dengan judul di atas? Tenang bung! Nah, intinya yang ingin saya jelaskan… Apasih manfaat dari TOFI ini? Klo mau dijabarin lagi, apasih manfaat TOFI ini mengikuti IPhO (Internasional Physics Olympiad) dan APhO (Asian Physics Olympiad) untuk Negara Indonesia ini? Prestisekah, buang2 duit kah, atau ajang adu kekuatan otak saja?
Saya akan sedikit bercerita tentang artikel yang saya baca dari portal sebelah (fisika.net). Dan bagaimana sih, pemerintah serta masyarakat harus bersikap? Yohanes surya sebagai pendiri TOFI mengatakan bahwa manfaat kita mengikuti ajang Olimpiade Fisika ini sebenarnya ada. Yaitu, kita dapat mengharumkan nama bangsa Indonesia di ajang bergengsi yang bertaraf Internasional. Tidak hanya itu, lulusan-lulusan TOFI pun yang sebagian mengikuti studi di Universitas bergengsi di Amerika maupun di Eropa telah menorehkan kemampuan mereka di bidang fisika sekaligus mengharumkan nama almamater mereka. Bangga tidak, kita sebagai orang Indonesia klo mendengarnya?!! Hmm… Sepertinya ada beberapa orang yang meneriakkan rasa tidak bangganya juga. Yah apa mau dikata…Menurut yang tidak setuju, ajang seperti itu ternyata tidak mengenyangkan perut rakyat Indonesia.
Ingin sedikit menceritakan yang berkenaan dengan TOFI ini. Saya punya temen dan kenalan alumni TOFI. Terharu sekali ketika mereka mengatakan ingin membantu bangsa Indonesia dengan kemampuan mereka. Sekali lagi bukan hanya membantu dengan mengharumkan bangsa ini, tetapi ingin memberi solusi terhadap bangsa Indonesia yang sedang dilanda dengan berbagai masalah dan musibah. Saya menambahkan sedikit dari kata-kata yohanes surya bahwa TOFI itu “lebih banyak” manfaatnya
Mengapa saya berani mengatakan ini? Karena saya mendengar tekad dari alumnus TOFI, bahwa mereka akan membantu Indonesia ini dengan segenap kemampuan mereka. MASALAHNYA?!! Lah ini nih, selalu saja tidak happy ending story. Maksudnya selalu ga enak cerita selanjutnya.(sorry, dicut dulu)
Ada beberapa artikel yang telah saya baca di portal sebelah (fisika.net). Dan memunculkan pertanyaan yang akan ditanyakan sama oleh orang awam. Mengapa anak-anak TOFI ini banyak kuliah di luar negeri dan juga banyak diminati oleh Negara lain? Kalaupun mereka ingin membantu Indonesia, kok teknologi di sini ga maju2, dan dilangkahi oleh negara tetangga. Betapa miris yah…
Salahkan kru2 TOFI ini? Tapi, ada yang perlu kita perhatikan di sini. Dalam hal ini pemerintah harusnya memberikan suatu fasilitas kepada rekan2 kita ini untuk berkarya. Bagaimana tidak? Di negara sana mereka bisa membuat inovasi2 yang mengejutkan. Sedangkan di sini mereka tidak diapresiasi sama sekali. Saya ambil contoh kasus nyata yaitu, alumni TOFI tahun 1993 diterima di sebuah PTN Indonesia, hampir DO karena tak mampu bayar spp. Bahkan yang saya dengar, ada dosen yang punya dedikasi tinggi thd PTN di Indonesia dan nama beliau cukup terkenal di kalangan nobelis fisika Internasional. Namun hidupnya di bawah garis kemiskinan. Sampai2 pulang dari bimbingan mahasiswanya pun dia harus jalan kaki yang rumahnya berjarak puluhan kilo. Sedih sekali mendengarnya.
Apasih yang salah sebenarnya? Saya rasa hal2 yang tadi tidak perlu terjadi jikalu pemerintah sekali lagi memperhatikan mereka. Toh bukan hanya orang2 TOFI saja, tapi banyak generasi muda kita yang cerdas ini, jangan sampai tidak diperhatikan mengenai pendidikan mereka. Mau jadi apa bangsa ini? Uang bukan digunakan untuk biaya pendidikan tapi untuk memperluas lahan parkir MALL atau area golf yang hanya di pakai oleh segelintir orang. Ini adalah kata2 klimaks yang harus didengar oleh pemerintah. Selalu saja masalah nyangkut di birokrasi. Huff…cape deh.
Setelah panjang lebar mengeluarkan unek2, saya dan mungkin temen2 sekalian setidaknya dapat menghargai kinerja mereka (TOFI). Dan juga kita doakan teman2 kita yang studi di luar sana agar lebih banyak berkarya dan berinovasi lebih kreatif, sehingga pulang ke tanah air ini bisa memberikan solusi untuk bangsa Indonesia dan rakyatnya.
Well, dengan adanya TOFI kita patut berbangga sekali lagi. Kita hargai bahwa mereka membela tanah air di ajang internasional bukan hanya prestise belaka, tapi karena mereka ingin bangsa ini punya solusi dari tangan mereka walaupun tidak seberapa. Dan semoga pemerintah kita tidak memandang sebelah mata atau dua mata sekalipun, akan aset bangsa yang brilian ini. wallahualam (^_^)V






seperti juga programmer, banyak juga yg gak diapresiasi di negeri sendiri… mangkanya banyak juga programmer yg “pindah kiblat” ke luar negeri
hanya bedanya kalo fisikawan sesuai namanya pindahnya mesti scr fisik (eg, BJ Habibie, ya ya ya sy salah, BJ habibie bukan fisikawan, tapi teknokrat, minimal contohnya mendekati), kalo programmer tidak mesti begitu, bisa saja dia di kontrak perush asing, padahal tubuhnya mah lagi ada di Garut he he
Comment by adit — September 19, 2007 @ 9:46 am
Lagian kalau menang TOFI (TOB(biologi)I,TOK(komputer)I etc) di nasional bisa diterima di PTN manapun di Indonesia, dan internasional bisa diterima di Uni manapun di dunia.
Well as a human yang ‘pintar’ mereka pasti milih cari ilmu diluar sana. Kalau masalah mau pulang atau nggak yaa… itu gimana Pemerintah kita mau hargai sumber dayanya atau tidak.
Mungkin ga sekarang deh
mungkin suatu hari nanti Indonesia jadi sukses
dan menghargai ’such smartness’
Comment by reedler — February 23, 2008 @ 2:28 am
@reedler
Yap, memang. Klo Tim lomba2 sains dll selalu diterima di PTN Indonesia. Lantas apakah akan menjamin kesejahteraan mereka? Yang saya katakan benar adanya ktika Oki Gunawan Alumni TOFI 1993, hampir DO krn pemerintah tdk menindak lanjuti SPP nya.
Jangan jauh2 degh. Guru2 diplosok dan guru honorer kurang diperhatikan sama skali.
Kenapa hrs ga skr? Justru hrs mulai dr skrg, sbelum kedepannya tidak lbh buruk lagi.
Walaupun pepatah mengatakan, tuntutlah ilmu ke negri cina. artinya, mencari ilmu itu bisa di mana aja. Akan tetapi, apakah sarang ilmu pengetahuan dan teknologi yg ditawarkan Indonesia serasa kurang, sehingga harus belajar lbh bnyk di luar? Bukan menyalahkan yang belajar di luar negeri. Tp hrsnya pemerintah kita berkaca, kpd negara2 lain yang mnuntut ilmu di negara sendiri. Dan puas secara sistem dan kurikulum…
Comment by zahra — February 23, 2008 @ 4:08 pm